PANEN DAN PASCAPANEN TANAMAN PISANG
PANEN
1. Ciri dan Umur Panen
Pada umur 1
tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh umur buah dan
bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah yang cukup
umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas
sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada jumlah waktu
yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan sehingga buah tidak
terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya buah pisang masih
tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.
2. Cara Panen
Buah pisang
dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm
dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu
memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari
bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah. Dengan posisi ini buah
pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan
tanah. Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan
sama sekali. Jika tersedia tenaga kerja,

batang
pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan
batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.
3. Periode Panen
Pada perkebunan
pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan
jumlah tanaman produktif.
8.4. Perkiraan Produksi
Belum ada
standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28
ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk
perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang
ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.
9. PASCAPANEN
Secara
konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi
penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan
terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari
tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan
dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan
posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di ujung sisir
buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.
10. GAMBARAN PELUANG
AGRIBISNIS
Perkebunan
pisang yang permanen (diusahakan terus menerus) dengan mudah dapat ditemukan di
Meksiko, Jamaika, Amerika Tengah, Panama, Kolombia, Ekuador dan Filipina. Di
negara tersebut, budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung
oleh kultur teknis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan
yang memenuhi standard internasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa pisang
memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin diabaikan.
Permintaan
pisang dunia memang sangat besar terutama jenis pisang Cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. Selain
berpeluang dalam ekspor pisang utuh, saat ini ekspor pure pisang juga
memberikan peluang yang baik. Pure pisang biasanya dibuat dari pisang cavendish
dengan kadar gula 21-26 % atau dari pisang lainnya dengan kadar gula < 21%.
Di Indonesia
pisang hanya ditanam dalam skala rumah tangga atau kebun yang sangat kecil.
Standard internasional perkebunan pisang kecil adalah 10-30 ha. Angka ini belum
dicapai di Indonesia. Tanah dan iklim kita sangat mendukung penanaman pisang,
karena itu secara teknis pendirian perkebunan pisang mungkin dilakukan.
11. STANDAR
PRODUKSI
11.1.Ruang Lingkup
Standar ini meliputi:
klasifikasi dan, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat
penandaan dan cara pengemasan.
11.2.Diskripsi
Standar buah pisang ini mengacu kepada SNI 01-4229-1996.
11.3.Klasifikasi dan Standar
Mutu
a) Tingkat Ketuaan Buah (%): Mutu
I=70-80; Mutu II <70 & >80
b) Keseragaman Kultivar: Mutu
I=seragam; Mutu II=seragam
c) Keseragaman Ukuran: Mutu
I=seragam; Mutu II=seragam
d) Kadar kotoran (% dalam bobot
kotoran/bobot): Mutu I=0; Mutu II= 0
e) Tingkat kerusakan
fisik/mekanis (% Bobot/bobot): Mutu I=0; Mutu II=0
f) Kemulusan Kulit (Maksimum): Mutu I=Mulus; Mutu II=Mulus
g) Serangga: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas
h) Penyakit: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas
Adapun persyaratan berdasarkan klasifikasi pisang adalah sebagai
berikut:
a) Panjang Jari (cm): Kelas A 18,1-20,0; Kelas B
16,1-18,0; Kelas C 14,1-16,0
b) Berat Isi (kg): Kelas A > 3,0; Kelas B
2,5-3,0; Kelas C < 2,5
c) Dimeter Pisang (cm): Kelas A 2,5; Kelas B >
2,5; Kelas C < 2,5
Untuk mencapai dan mengetahui syarat mutu harus dilakukan pengujian yang
meliputi :
a) Penentuan Keseragaman Kultivar.
Cara kerja dari pengujian
adalah ; Hitung jumlah dari seluruh contoh buah pisang segar, amati satu
persatu secara visual dan pisahkan buah yang tidak sesuai dengan untuk kultivar
ang besangkutan. Hitung jumlah jari buah pisang yang tidak sesuai dengan
kultivar tersebut. Hitung persentase jumlah jari buah pisang yang dinilai
mempunyai bentuk dan warna yang tidak khas untuk kultivar yang bersangkutan
terhadap jumlah jari keseluruhannya.
b) Penentuan Keseragaman Ukuran Buah.
Ukur panjang dari setiap
buah contoh dan dihitung mulai dari ujung buah sampai pangkal tangkai dari
seluruh contoh uji dengan menggunakan alat pengukur yang sesuai. Ukur pula
garis tengah buah dengan menggunakan mistar geser. Pisahkan sesuai dengan
penggolongan yang dinyatakan pada label di kemasan.
c) Penentuan Tingkat Ketuaan.
Perhatikan sudut-sudut pada
kulit buah pisang segar. Buah yang tidsak bersudut lagi (hampir bulat) berati
sudah tua 100%, sedangkan yang masih sangat nyata sudutnya
berarti tingkat ketuaan masih 70% atau kurang.
d) Penentuan Tingkat Kerusakan Fisik/Mekanis
Hitung jumlah jari dari
seluruh contoh buah pisang. Amati satu persatu jari buah secara visual dan
pisahkan buah yang dinilai mengalami kerusakan mekanis/fisik berupa luka atau
memar. Hitung jumlah yang rusak lalu bagi dengan jumalh keseluruhannya dan
dikalikan dengan 100%.
e) Penentuan Kadar Kotoran
Timbang seluruh contoh buah yang diuji, amati
secara visual kotorang yang ada,
pisahkan kotoran yang ada
pada buah dan kemasannya seperti tanah, getah, batang, potongan daun atau benda
lain yang termasuk dalam istilah kotoran yang menempel pada buah dan kemasan,
lalu timbang seluruh kotorannya. Berat kotoran per berat seluruh contoh buah yang
diuji kali dengan 100%.
11.4.Pengambilan Contoh
Satu partai/lot buah pisang
segar terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh diambil secara acak sebanyak
jumlah kemasan.
a) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 1–5 :
contoh semua
b) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 6–100
: contoh : sekurangkurangnya 5
c) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 101–300
: contoh sekurangkurangnya 7
d) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 301–500
: contoh sekurangkurangnya 9
e) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 501–1000
: contoh sekurangkurangnya 10
11.5.Pengemasan
Untuk pisang
tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg. Kardus dapat
dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang. Sebelum pisang
dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardus dengan lembaran
plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang dengan plastik
tersebut. Dapat saja kelompok (cluster)
pisang dibungkus dengan plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke
dalam kardus karton.
Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara
lain:
a) Produksi Indonesia
b) Nama kultivar pisang
c) Nama perusahaan/ekspotir
d) Berat bersih
e) Berat kotor
f) Identitas pembeli
g) Tanggal panen
h) Saran suhu penyimpanan/pengangkutan