BUDIDAYA LONCANG

Ketinggian 250-1500 m dpl merupakan temat yang cocok untuk ditnami loncang/bawang daun. walaupun ketika menanam di dataran rendah anakan bawang daun tidak
terlalu banyak. Curah hujan 150-200 mm/tahun dan suhu harian
18-25 0C cocok
untuk pertumbuhan loncang dan pH netral (6,5-7,5)
dengan jenis tanah Andosol (bekas lahan gunung berapi) atau tanah lempung
berpasir sangat cocok untuk tanaman loncang.
1. Benih
cara menhasilkan bibit atau benih loncang dapat berrasal dari dua sumber yaitu berasal dari biji maupun dari anak tunas yang di pisahkan. Tunas anakan diperoleh dengan cara memisahkan anakan yang sehat dan
bagus pertumbuhannya dari induknya. kelebhan mengunakan bibit dari tunas anakan yaitu panen lebih cepat dibandingkan menggunakan biji.
2. Persemaian
Bibit dari stek tunas dapat langsung ditanam di lapangan dengan terlebih
dahulu mengurangi perakarannya untuk mengurangi penguapan sedangkan ketika menggunakan Benih dari biji
harus disemai dahulu sebelum ditanam di lapangan. Media semai yang baik digunakan berupa campuran
pupuk kandang dan tanah (1:1) yang telah digemburkan. Biji disebar secara
merata kemudian ditutup dengan lapisan tanah tipis (dengan ketebalan 0,5-1 cm)
dan disiram secukupnya pagi dan sore. Bibit siap dipindahkan ke lapangan bila telah mempunyai
2-3 helai daun.
3. Penyiapan
Lahan dan Penanaman
Kedalamam lahan yag harus diolah antara 30-40 cm. kemudian ditambahkan pupuk
kandang. Hal ini dilakukan karena bawang daun menghendaki tanah yang gembur
untuk pertumbuhannya. Kemudian siapkan bedengan dengan lebar 1-1,2 m dengan
panjang sesuai dengan topografi lahan. Parit antar bedengan dibuat dengan
kedalaman 30 cm dan lebar 30 cm untuk memperlancar drainase lahan karena loncanng tidak menyukai adanya genangan air. Jarak
tanam yang digunakan 20 cm x 25 cm, 25 cm x 25 cm atau 20 cm x 30 cm seruai lebartajuk dan perkiraan sinar matahari dapat menyinari tanaman semuanya. Penanaman
dilakukan dengan cara membuat lubang tanam kecil dan bibit atau tunas anakan
ditanam dengan posisi tegak lurus dan ditimbun dengan tanah kembali dan
disiram untuk menjanga keseimbangan agar tidak rebah (wiwin dkk, 2007).
4. Pemeliharaan
pendangiran dilakukan untuk menggembutkan tanah dan sekaligus untuk penyiangan gulma yang mengganggu tanaman inti. pada kegiatan pendangiran dilakukan juga pembumbunan pada guludan di pangkal batang. kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk
mendapatkan warna putih pada batang semu bawang daun. Bawang daun berkualitas
mempunyai batang semu yang berwarna putih dengan panjang kurang lebih 1/3
keseluruhan tanaman. Batang semu yang berwarna putih rasanya lebih enak
sedangkan yang berwarna hijau lebih liat sehingga kurang disukai. Penimbunan
batang sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk menghindari pembusukan batang
dan daun terutama saat tanaman masih muda.
Penyiraman rutin bila bawang daun ditanam pada musim
kemarau, sedangkan apabila ditanam dimusim penghujan drainase harus
diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi genangan air di lahan. karena bawang daun tidak tahan dengan genangan air yang berada di lahan.
Pemupukan terdiri dari pupuk kandang yang diberikan pada saat pengolahan
tanah dengan dosis 10-15 ton/ ha (pupuk kandang matang). Pupuk lain yang diperlukan adalah pupuk Urea
200 kg/ha yang diberikan 2 kali yaitu pada saat berumur 21 hari (setengah dosis) dan sisanya pada saat tanaman berumur
42 hari. Pupuk SP 36 dan KCl juga diberikan dua kali seperti pupuk Urea, dengan
dosis pemupukan pertama SP 36 50 kg dan KCl 50 kg, dan pemupukan kedua SP 36 50
kg dan KCl 25 kg. Pemupukan dilakukan dengan membuat larikan kurang lebih 5 cm
di kiri dan kanan batang, dan menaburkan pupuk pada larikan tersebut dan
menimbunnya kembali dengan tanah.
5. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Hama yang banyak ditemukan di tanaman bawang daun antara lain adalah
Pengendalian ulat bawang dapat di lakukan dengan dua cara yaitu, secara mekanis dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur dan memusnahkannya. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya.
Hama yang banyak ditemukan di tanaman bawang daun antara lain adalah
- Agrotis sp. (menyebabkan batang terpotong dan putus sehingga tanaman mati),
- Spodoptera exigua (ulat bawang yang memakan daun bawang daun),
- Thrips tabaci (menghisap cairan daun).
Pengendalian ulat bawang dapat di lakukan dengan dua cara yaitu, secara mekanis dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur dan memusnahkannya. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya.
Penyakit yang menyerang tanaman bawang daun adalah Erwinia carotovora dengan gejala berupa busuk lunak, basah dan mengeluarkan bau yang tidak enak, selain itu juga serangan Alternaria porri (bercak ungu) yang menyerang daun. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit dan sanitasi kebun agar tidak lembab. Kondisi kebun yang kotor dan lembab menyebabkan penyakit dapat berkembang dengan cepat.
6. Panen dan Pascapanen
Tanaman bawang daun mulai dapat dipanen pada umur 2 bulan setelah tanam.
Potensi hasilnya berkisar antara 7-15 ton/ha. Pemanenan dilakukan dengan
mencabut seluruh bagian tanaman termasuk akar, pemisahan daun segar dan tua atau layu. Apabila bawang daun akan ditanam kembali pada pertanaman berikutnya,
maka dilakukan pemilihan tunas
anakan yang sehat dan bagus pertumbuhannya kemudian dipisahkan dari bagian
tanaman yang hendak dijual.
Sortasi sederhana dilakukan dengan menggabungkan rumpun yang berdaun
besar secara terpisah dengan rumpun yang berdaun kecil. Pengikatan rumpun
bawang daun dilakukan dengan lebih dahulu memberi alas pada bagian luar rumpun
sehingga ikatan tidak langsung mengenai rumpun bawang daun. Bawang daun tidak
dapat disimpan lama pada suhu ruang, sehingga sebaiknya segera dipasarkan agar mutunya masih
terjaga saat sampai ke tangan konsumen.